Tampilkan postingan dengan label RELIGION. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RELIGION. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 November 2012

Berbahagialah Orang yang tidak berjalan menurut Nasihat Fasik

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” Mazmur 1:1-3

Kita dapat melihat perbedaan yang jelas keadaan pohon-pohon dan segala macam tumbuhan maupun tanaman pada saat musim hujan dan musim kemarau. Hampir semua pohon akan tumbuh dengan suburnya pada saat musim hujan, karena mereka mendapatkan suplai air yang cukup bahkan berlebih.

Rumput-rumput akan tumbuh dengan lebatnya sehingga kita dapat melihat hamparan padang rumput yang begitu hijaunya. Para petani akan senang sekali karena mereka dapat mengairi sawahnya atau kebunnya, sehingga tanaman mereka dapat tumbuh dengan subur dan dapat memberikan hasil panen yang baik pada waktunya.

Berbeda sekali jika musim berubah menjadi musim kemarau. Kita akan melihat kekeringan terjadi di sekeliling kita. Segala macam jenis tanaman maupun tumbuhan akan mengering karena kekurangan air. Padang rumput akan berubah warnanya menjadi kekuningan karena rumput-rumput yang mengering.

Jika terjadi musim kemarau yang berkepanjangan, maka akan ada banyak tanaman yang mati kekeringan sehingga tidak sedikit petani yang mengalami gagal panen. Banyak pohon akan menjadi layu dan mati karena kekurangan air. Oleh karena itu para petani akan berusaha semaksimal mungkin agar tanamannya dapat tetap memperoleh suplai air yang cukup, sehingga mereka dapat mempertahankan kelangsungan hidup tanaman mereka.

Kehidupan rohani pengikut Kristus serupa dengan apa yang terjadi di atas. Kehidupan kita ibarat sebuah pohon yang membutuhkan suplai air agar tetap hidup dan bertumbuh dengan subur.

Bagaimana agar kehidupan rohani kita dapat tetap mendapat suplai air yang cukup, sehingga menjadikan hidup kita selalu berhasil?
1. Memiliki kehidupan yang sesuai dengan Firman Tuhan

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh…”

Menjadi pengikut Kristus berarti bahwa kita tidak lagi melakukan hal-hal yang duniawi dan bertentangan dengan Firman Tuhan. Kita tidak lagi berbohong dan mencari keuntungan diri sendiri. Kita tidak lagi berkompromi dengan dosa. Dan bahkan kita membenci dosa oleh karena kita telah menjadi manusia yang baru.

Jauhkan diri kita dari kebiasaan-kebiasaan lama yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Ingatlah bahwa pergaulan buruk maupun lingkungan yang buruk akan merusak kehidupan kita. Firman Tuhan mengajarkan kita untuk tidak hidup dan bergaul dalam lingkungan seperti itu.

Terima ayat Alkitab melalui Facebook. Ayo gabung dengan lebih dari 32.000 member di Facebook Page Pelita Hidup. Klik like berikut ini:

Sebaliknya, pergaulan yang positif dan lingkungan yang baik akan membuat hidup kita menjadi positif dan baik juga. Hiduplah sesuai dengan Firman Tuhan.

2. Memiliki kesukaan akan Firman Tuhan

“…yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN”

Menjadikan Firman Tuhan sebagai kesukaan akan membuat kehidupan kita senantiasa hidup dialiri oleh air-air hidup dari Tuhan.

Hal ini harus dibangun secara kontinu. Membaca Firman Tuhan setiap hari akan membiasakan diri kita untuk menjadi suka kepada FirmanNya. Kebiasaan akan muncul jika kita melakukan sesuatu secara berulang-ulang setiap hari dalam periode waktu tertentu.

Biasakanlah diri kita untuk membaca sebagian ayat dari Firman Tuhan setiap hari. Awalnya mungkin terasa berat dan bahkan kita tidak mengerti apa yang dimaksud dari ayat tersebut. Tetaplah lakukan, dan baca FirmanNya setiap hari. Berdoa kepada Tuhan agar diberi pengertian pada setiap ayat yang kita baca. Dengan demikian kita membangun kesukaan akan Firman Tuhan dalam hidup kita.

3. Menjadikan Firman Tuhan sebagai rhema

“…yang merenungkan Taurat itu siang dan malam”

Tidak hanya menyukai Firman Tuhan, tetapi menjadikannya rhema bagi hidup kita. Rhema adalah suatu pengertian dimana mata rohani kita menjadi terbuka.

Ketika kita mendapatkan rhema dari Firman Tuhan, kita akan mengalami keadaan dimana kita merasa telah dibukakan suatu pengertian yang baru. Keadaan itu juga akan memberikan kekuatan dan membangkitkan spirit/motivasi hidup kita.

Biarlah kita senantiasa merenungkan Firman Tuhan, sehingga FirmanNya dapat benar-benar hidup di dalam kita dan senantiasa memberikan pengertian dan kekuatan baru. Dimanapun dan kapanpun kita berada, FirmanNya akan menuntun hidup kita dan membawa kita kepada keberhasilan.

Tiga langkah di atas akan menjadikan hidup kita senantiasa dialiri air hidup dari Tuhan, ibarat pohon yang ditanam di tepi aliran air. Pohon tersebut akan tumbuh dengan subur dan tidak akan layu pada musim kering, karena selalu mendapatkan air yang cukup. Dan pada waktunya akan mengeluarkan buah yang dapat dinikmati.

Hiduplah sesuai dengan Firman Tuhan, bangunlah kesukaan akan Firman Tuhan dan renungkan FirmanNya sehingga menjadi rhema dalam hidup kita. Maka kita akan melihat hidup kita yang senantiasa diberkati oleh Tuhan, apa saja yang kita perbuat pasti berhasil. Haleluya!

“Terpujilah TUHAN yang memberikan tempat perhentian kepada umat-Nya Israel tepat seperti yang difirmankan-Nya; dari segala yang baik, yang telah dijanjikan-Nya dengan perantaraan Musa, hamba-Nya, tidak ada satupun yang tidak dipenuhi.
Kiranya TUHAN, Allah kita, menyertai kita sebagaimana Ia telah menyertai nenek moyang kita, janganlah Ia meninggalkan kita dan janganlah Ia membuangkan kita,
tetapi hendaklah dicondongkan-Nya hati kita kepada-Nya untuk hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, dan untuk tetap mengikuti segala perintah-Nya dan ketetapan-Nya dan peraturan-Nya yang telah diperintahkan-Nya kepada nenek moyang kita.
Hendaklah perkataan yang telah kupohonkan tadi di hadapan TUHAN, dekat pada TUHAN, Allah kita, siang dan malam, supaya Ia memberikan keadilan kepada hamba-Nya dan kepada umat-Nya Israel menurut yang perlu pada setiap hari,
supaya segala bangsa di bumi tahu, bahwa Tuhanlah Allah, dan tidak ada yang lain,
dan hendaklah kamu berpaut kepada TUHAN, Allah kita, dengan sepenuh hatimu dan dengan hidup menurut segala ketetapan-Nya dan dengan tetap mengikuti segala perintah-Nya seperti pada hari ini.” 1 Raja-raja 8:56-61

Kamis, 22 November 2012

Ajarilah Anak-anak Arti Natal yang Sebenarnya

5a562960

Satu minggu sebelum Natal, saya kedatangan tamu. Begini ceritanya. Saya sedang bersiap-siap untuk tidur ketika saya mendengar suara berisik di ruang tamu. Saya membuka pintu kamar dan saya amat terkejut, Sinterklas tiba-tiba muncul dari balik pohon Natal.

Sinterklas tidak tampak gembira seperti biasanya. Malahan saya pikir saya melihat air mata di sudut matanya. "Apa yang sedang anda lakukan?" saya bertanya. "Saya datang untuk mengingatkan kamu … AJARILAH ANAK-ANAK!" kata Sinterklas. Saya menjadi bingung; apa yang dimaksudkannya?

Kemudian dengan suatu gerak cepat Sinterklas memungut sebuah tas mainan dari balik pohon. Sementara saya berdiri dengan bingung, Sinterklas berkata, "Ajarilah anak-anak! Ajarilah mereka arti Natal yang sebenarnya, arti yang sekarang ini telah dilupakan oleh banyak anak."

Sinterklas merogoh ke dalam tasnya dan mengeluarkan sebuah POHON NATAL mini. Pohon Natal"Ajarilah anak-anak bahwa pohon cemara senantiasa hijau sepanjang tahun, melambangkan harapan abadi seluruh umat manusia, semua ujung daunnya mengarah ke atas, mengingatkan kita bahwa segala pikiran kita di masa Natal hanya terarah pada surga."

BintangKemudian ia memasukkan tangannya ke dalam tas dan mengeluarkan sebuah BINTANG cemerlang. "Ajarilah anak-anak bahwa bintang adalah tanda surgawi akan janji Allah berabad-abad yang silam. Tuhan menjanjikan seorang Penyelamat bagi dunia, dan bintang adalah tanda bahwa Tuhan menepati janji-Nya."

Ia memasukkan tangannya lagi ke dalam tasnya dan mengeluarkan sebatang LILIN. Lilin Natal"Ajarilah anak-anak bahwa Kristus adalah terang dunia, dan ketika kita melihat terang lilin kita diingatkan kepada-Nya yang telah mengusir kegelapan."

Lingkaran NatalSekali lagi ia memasukkan tangannya ke dalam tasnya, mengeluarkan sebuah LINGKARAN lalu memasangnya di pohon Natal. "Ajarilah anak-anak bahwa lingkaran melambangkan cinta Sejati yang tak akan pernah berhenti. Cinta adalah kasih sayang yang terus-menerus - tidak hanya saat Natal tetapi sepanjang tahun."

Boneka SinterklasKemudian dari tasnya ia mengeluarkan hiasan SINTERKLAS. "Ajarilah anak-anak bahwa saya, Sinterklas, melambangkan kemurahan hati dan segala niat baik yang kita rasakan sepanjang bulan Desember."

Hadiah NatalSelanjutnya ia mengeluarkan sebuah HADIAH dan berkata. "Ajarilah anak-anak bahwa Tuhan demikian mengasihi umatnya sehingga Ia memberikan anaknya yang tunggal…"

"Terpujilah Allah atas hadiah-Nya yang demikian mengagumkan itu. Ajarilah anak-anak bahwa para majus datang menyembah sang bayi kudus dan mempersembahkan emas, kemenyan dan mur. Hendaknyalah kita memberi dengan semangat yang sama dengan para majus."

Sinterklas kemudian mengambil tasnya, memungut sebatang PERMEN coklat berbentuk Permen Coklattongkat dan menggantungkannya di pohon Natal. "Ajarilah anak-anak bahwa batangan permen ini melambangkan para gembala. Sekali waktu seekor domba berkelana pergi meninggalkan kawanannya dan tersesat maka gembala datang dan menuntun mereka kembali. Batangan permen ini mengingatkan kita bahwa kita adalah penjaga saudara-saudara kita, sekali waktu orang-orang yang telah lama pergi meninggalkan gereja membutuhkan pertolongan untuk kembali ke pangkuan Gereja. Selayaknyalah kita berdaya upaya untuk menjadi gembala-gembala yang baik dan menuntun mereka pulang ke rumah."

Ia memasukkan tangannya lagi ke dalam tas dan mengeluarkan sebuah boneka MALAIKAT. "Ajarilah anak-anak bahwa para malaikatlah yang mewartakan kabar sukacita kelahiran Sang Penyelamat. Para malaikat itu bernyanyi, "Kemuliaan bagi Allah di surga dan damai di bumi bagi manusia." Sama seperti para malaikat di Betlehem, kita patut mewartakan Kabar Gembira tersebut kepada keluarga dan teman-teman: Immanuel - Tuhan beserta kita!

MalaikatSekarang Sinterklas kelihatan gembira. Ia memandang saya dan saya melihat matanya telah bersinar kembali. Ia berkata, "Ingat, ajarilah anak-anak arti Natal yang sebenarnya. Jangan menjadikan saya pusat perhatian karena saya hanyalah hamba dari Dia yang adalah arti Natal yang sebenarnya - Immanuel - Tuhan beserta kita. Kemudian, secepat datangnya, Sinterklas tiba-tiba pergi.

Dan seperti biasa - Sinterklas telah datang untuk membawa hadiah bagi saya dan anak-anak saya - suatu hadiah yang luar biasa. Sinterklas telah membantu saya mengingat kembali arti Natal yang sebenarnya - dan arti kedatangan Yesus ke dunia. Dan saya tahu, bagi saya dan anak-anak, Natal ini akan menjadi Natal yang terindah - karena IMMANUEL ~ TUHAN BESERTA KITA!

sumber : News For Kids, Rm Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Richard Lonsdale.”

Senin, 19 November 2012

Meraih Hari Esok Yang Penuh Harapan

“Maka datanglah firman TUHAN kepada Elia:
“Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan.”

Sesudah itu ia bersiap, lalu pergi ke Sarfat. Setelah ia sampai ke pintu gerbang kota itu, tampaklah di sana seorang janda sedang mengumpulkan kayu api. Ia berseru kepada perempuan itu, katanya: “Cobalah ambil bagiku sedikit air dalam kendi, supaya aku minum.”

Ketika perempuan itu pergi mengambilnya, ia berseru lagi: “Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti.”
Perempuan itu menjawab: “Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati.”

Tetapi Elia berkata kepadanya: “Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu.

Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itupun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi.”

Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya.

Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.” 1 Raja-raja 17:8-16
Pada saat itu sedang terjadi kekeringan yang dahsyat karena hujan tidak turun selama tiga setengah tahun. Kelaparan juga melanda seluruh negeri itu (Luk 4:25-26). Lalu Tuhan menyuruh Elia untuk pergi ke Sarfat. Disanalah Tuhan menyatakan mujizatNya melalui seorang janda.

Keadaan perempuan tersebut sudah sangat memprihatinkan. Dia hanya memiliki segenggam tepung dan sedikit minyak. Sisa sedikit bahan tersebut adalah bahan makanan terakhir yang akan diolah dan dimakan bersama dengan anaknya. Setelah itu dia telah pasrah pada apa yang akan terjadi pada dirinya dan anaknya.
Perempuan tersebut sudah tidak punya harapan lagi selain kepada apa yang dimilikinya. Hanya sedikit bahan makanan-lah yang menjadi harapan terakhir untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kekeringan dan kelaparan yang sedang melanda bukan merupakan keadaan yang bisa mendatangkan keuntungan. Sangatlah sulit untuk mendapatkan air maupun bahan makanan.

Tetapi Tuhan mengutus Elia kepada perempuan tersebut untuk menyatakan kemuliaanNya.

Ada beberapa hal yang membuat mujizat terjadi dalam kehidupan perempuan janda tersebut:
1. Tidak Takut

“Tetapi Elia berkata kepadanya: ‘Janganlah takut’ ” 1 Raja-raja 17:13a

Elia meminta perempuan itu untuk membuatkan sepotong roti baginya. Tentunya perempuan tersebut berpikir, bagaimana mau membuatkan roti untuk orang lain sedangkan untuk dirinya sendiri saja pas-pasan.

Tetapi Elia mengatakan kepada perempuan itu untuk tidak takut, karena Tuhan akan mencukupi segala kebutuhan mereka hingga masa kelaparan tersebut berlalu.

Janganlah takut atau kuatir atas apa yang sedang kita alami saat ini. Kekurangan atau masalah yang sedang kita alami harus kita jalani dengan hati yang tenang. Ketakutan atau kekuatiran tidak akan menyelesaikan masalah.
“Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” Matius 6:27

Dengan ketenangan maka kita akan dapat menjalani setiap masalah yang ada dengan pikiran yang lebih jernih. Jangan takut dan jangan kuatir, karena Tuhan ada bersama dengan kita.

“Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi.” Yosua 1:8

.
2. Pegang Janji Tuhan

“Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itupun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi.” 1 Raja-raja 17:14

Elia menyatakan janji Tuhan bahwa Tuhan akan memberikan hujan sehingga kekeringan dan kelaparan akan berhenti. Janji ini menjadi pengharapan baru bagi perempuan tersebut. Walaupun keadaan masih tetap sama, tetapi tanpa keraguan sedikitpun dia melakukan apa yang Elia perintahkan. Matanya memandang kepada janji Tuhan yang indah bagi kehidupannya dan hari esok yang penuh harapan.

Keadaan yang kita alami mungkin belum berubah menjadi baik. Tetapi Tuhan memberikan janji kepada kita bahwa ada hari esok yang penuh harapan bagi kehidupan kita. Dan Dia tidak akan lalai menepati janjiNya.

Oleh karena itu peganglah janji Tuhan dalam hati kita. Jangan pernah lepaskan apa yang telah Tuhan janjikan, karena Dia tidak akan berlambat-lambat menggenapi apa yang telah Dia firmankan bagi kita.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Yeremia 29:11
3. Melangkah Dengan Iman

“Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya.
Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.” 1 Raja-raja 17:15-16

Perintah Elia untuk membuatkan roti terlebih dahulu bagi dia merupakan hal yang kelihatan tidak masuk akal. Logika manusia sudah pasti tidak sesuai dengan hal yang Elia katakan.

Tetapi perempuan janda itu tidak membantah apa yang Elia katakan. Dia tidak meragukan apa yang akan terjadi. Setelah mendengar janji Tuhan, dia langsung melakukan perintah Elia. Dia melakukannya dengan penuh keyakinan. Dia yakin bahwa Tuhan benar-benar ada dan akan melakukan hal yang baik bagi kehidupannya.

Dan kita melihat keyakinan imannya membuahkan hasil. Tepung dan minyak yang dia miliki tidak berkurang sedikitpun, walaupun untuk sekian lama digunakan untuk mencukupi kebutuhan bagi mereka bertiga. Kuasa Tuhan dinyatakan dalam kehidupannya. Mujizat terjadi!

Apa yang harus kita lakukan dalam berbagai masalah: keadaan kekurangan, sakit-penyakit, doa yang belum dijawab, belum dapat jodoh, belum dapat pekerjaan, pekerjaan yang kurang bagus, bisnis yang tidak berkembang dan masih banyak lagi?

Kita harus tetap mencari, tetap bekerja, tetap berusaha, tetap melakukan yang terbaik dan tetap konsisten dalam melakukan segala upaya. Lakukan dengan iman, lakukan dengan penuh keyakinan, dan lakukan dengan penuh pengharapan. Tuhan akan menyatakan mujizatNya pada saat kita melangkah.

Keadaan tidak akan berubah jika kita tidak mau melangkah dengan iman. Tetapi pada saat kita melangkah dengan iman, maka kuasa Tuhan akan menyertai setiap langkah yang kita jalani. Dia akan memampukan kita, Dia akan memberi kekuatan bagi kita untuk melalui semuanya. Dia juga yang akan membawa kita kepada kemenangan.

“Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?
Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” Yakobus 2:21-22

Janganlah kita menyerah atas apa yang sedang kita alami. Semua yang terjadi merupakan ujian bagi kita untuk dapat lebih dekat lagi kepada Tuhan. Dengan mencontoh perempuan janda di Sarfat, yaitu dengan tidak takut, memegang janji Tuhan dan melangkah dengan iman, maka kita dapat berjalan lebih kuat lagi untuk meraih hari esok yang penuh harapan. Haleluya!

“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!
Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” Yeremia 17:7-8meraih-hari-esok-yang-penuh-harapan

Rabu, 07 November 2012

Arti Natal yang Sesungguhnya

11626fc90

Pada masa yang silam, di Persia memerintah seorang raja yang baik hati serta bijaksana. Ia mencintai rakyatnya. Ia ingin tahu kehidupan mereka. Ia ingin tahu penderitaan yang harus mereka alami. Seringkali ia berpakaian seperti seorang pekerja atau bahkan pengemis dan pergi ke kampung-kampung miskin. Tak seorang pun yang ia kunjungi pernah mengira bahwa ia adalah raja mereka.

Suatu ketika ia mengunjungi seseorang yang amat miskin yang tinggal di sebuah gua. Ia makan makanan kasar yang dimakan orang miskin itu. Ia berbicara kepadanya dengan kata-kata yang lembut serta menghibur. Lalu ia pergi. Di kemudian hari, ia kembali mengunjungi orang miskin itu lagi dan dengan jelas mengatakan kepadanya, “Aku ini rajamu.”

Alangkah terkejutnya si orang miskin itu! Raja menyangka bahwa orang itu pasti akan meminta suatu hadiah atau pertolongan darinya. Tetapi, ternyata tidak. Sebaliknya, orang miskin itu berkata:

“Engkau meninggalkan istanamu serta kemuliaanmu untuk mengunjungiku di tempat yang gelap serta kumuh ini. Engkau makan makanan kasar yang aku makan. Engkau membawa kebahagiaan dalam hatiku. Bagi orang lain engkau memberikan hadiah-hadiah berlimpah. Bagiku engkau telah memberikan dirimu sendiri.”

Sumber: “Meaning of Christmas”; Societas Verbi Divini, USA Western Province; www.svd-ca.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

Selasa, 06 November 2012

12 hari natal

"12 Days of Christmas"
5fd78580

A Partridge in a Pear TreeSalah satu dari lagu-lagu yang populer dalam Masa Natal adalah lagu “The 12 Days of Christmas”. Lagu tersebut menggambarkan serangkaian hadiah yang 'aneh' yang 'diberikan oleh 'kekasihku yang sejati kepadaku.' Termasuk di antaranya Seekor Ayam Hutan di atas Pohon Per dan 5 Cincin Emas.

Bagi kebanyakan orang, lagu tersebut hanyalah sebuah lagu konyol yang membutuhkan ingatan yang kuat agar dapat menyanyikannya hingga selesai. Sesungguhnya, lagu tersebut mengandung arti yang amat istimewa. Di dalamnya terdapat ringkasan ajaran iman Katolik Roma tentang Natal.

Dari tahun 1558 hingga tahun 1829 banyak orang Kristen di Inggris menentang Gereja Katolik. Mereka mengeluarkan sebuah undang-undang yang melarang para orangtua Katolik mengajarkan iman mereka kepada anak-anak mereka. Suatu kelompok yang disebut “Kaum Puritan” bahkan melarang segala bentuk perayaan Natal karena dianggap “terlalu Katolik.”

Dalam masa itulah seorang penulis lagu Katolik di Inggris menuliskan lagu “The Twelve Days of Christmas” sebagai lagu katakese anak-anak Katolik. Arti tersembunyi dari hadiah-hadiah dalam lagu tersebut dimaksudkan untuk membantu anak-anak mengingat pelajaran iman mereka. “Kekasih Sejati” dalam lagu tersebut bukanlah kekasih atau pacar dalam arti duniawi, melainkan Allah Bapa sendiri. “Aku” yang menerima hadiah-hadiah tersebut adalah semua orang yang telah dibaptis. Seekor ayam hutan di atas pohon per adalah Yesus Kristus. Dalam lagu tersebut, Kristus digambarkan sebagai induk ayam yang burpura-pura terluka untuk mengelabui pemangsa yang hendak menerkam anak-anaknya yang masih kecil dan lemah. Arti simbol-simbol yang lain adalah:

Ten Lords a-leaping
Dua ekor burung merpati (two turtle doves) = Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Tiga ayam betina Perancis (three French hens) = iman, harapan dan kasih.

Empat burung berkicau (four calling birds) = keempat Injil.

Lima cincin emas (five golden rings) = 5 Sakramen yang dapat diterima oleh semua orang Katolik, yaitu: Baptis, Komuni, Penguatan dan Perminyakan. Dua Sakramen yang lain, yaitu: Perkawinan dan Imamat hanya diperuntukkan bagi mereka yang dipanggil untuk maksud tersebut.

Geese a-layingEnam itik bertelur (six geese a-laying) = enam hari penciptaan.

Tujuh angsa berenang (seven swans a-swimming) = tujuh karunia Roh Kudus.

Delapan gadis memerah susu (eight maids a-milking) = delapan Sabda Bahagia.Maid A-milking

Sembilan nyonya menari (nine ladies dancing) = sembilah buah-buah Roh Kudus.

Sepuluh tuan melompat (ten lords a-leaping) = sepuluh Perintah Allah.

Sebelas pemain suling bermain musik (eleven pipers piping) = sebelas rasul yang setia.

Drum
Duabelas pemain genderang memukul genderangnya (twelve drummers drumming) = 12 pokok iman dalam Syahadat Para Rasul.



sumber : 1. News For Kids, Rm Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com; 2. Romo Francis J. Peffley; Father Peffley's Web Site; www.transporter.com/fatherpeffley
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

Minggu, 04 November 2012

DUA BAYI DALAM PALUNGAN

Dua Bayi dalam Palungan
11472cd20

Pada tahun 1994, dua orang misionaris Amerika mendapat undangan dari Departemen Pendidikan Rusia untuk mengajar Moral dan Etika berdasarkan prinsip-prinsip Alkitab. Mereka mengajar di penjara-penjara, kantor-kantor, departemen kepolisian, pemadam kebakaran dan di panti asuhan.

Panti Asuhan yang mereka kunjungi cukup besar dengan sekitar seratus anak laki-laki dan perempuan yatim piatu penghuninya. Mereka adalah anak-anak yang dibuang, ditinggalkan dan sekarang dirawat dalam program pemerintah.

Inilah kisah para misionaris tersebut:

"Waktu itu menjelang Natal 1994, saatnya anak-anak yatim piatu kita - untuk pertama kalinya - mendengarkan kisah Natal. Kami bercerita tentang Maria dan Yusuf, bagaimana setibanya di Bethlehem, mereka tidak mendapatkan penginapan hingga mereka akhirnya menginap di sebuah kandang hewan. Di kandang hewan itulah akhirnya Bayi Yesus lahir dan dibaringkan bunda-Nya dalam sebuah palungan.

Sepanjang kisah itu, anak-anak maupun pengurus panti asuhan begitu tegang; mereka terpukau dan takjub mendengarkan Kisah Natal. Beberapa anak bahkan duduk di tepi depan kursi seakan agar bisa lebih menangkap setiap kata. Selesai bercerita, setiap anak kami beri tiga potong kertas karton untuk membuat palungan. Mereka juga mendapat sehelai kertas persegi, sobekan dari kertas napkin kuning yang kami bawa. Anak-anak amat senang menerimanya karena di kota itu belum ada kertas berwarna.

Sesuai petunjuk, anak-anak mulai menggunting kertasnya dengan hati-hati lalu kemudian menyusun guntingan-guntingan kertas kuning sebagai jerami dipalungan. Potongan-potongan kecil kain flannel, yang digunting dari gaun malam seorang ibu Amerika yang telah meninggalkan Rusia, dipakai sebagai selimut bayi. Bayi kecil mirip boneka pun digunting dari lembaran felt yang kami bawa dari Amerika.

Semua anak sibuk menyusun palungannya masing-masing. Saya berjalan di antara mereka untuk melihat kalau-kalau ada yang membutuhkan bantuan. Semuanya tampak lancar dan baik-baik saja, hingga saya tiba di meja si kecil Misha. Misha adalah seorang anak laki-laki berusia sekitar enam tahun. Ia telah selesai mengerjakan proyeknya.

Ketika saya mengamati palungan bocah kecil ini, saya merasa terkejut bercampur heran. Ada dua bayi dalam palungan Misha. Cepat-cepat saya memanggil seorang penerjemah untuk menanyakan hal ini kepada Misha. Dengan melipat kedua tangannya di meja, dan sambil memandangi karyanya itu, Misha mulai mengulang Kisah Natal dengan amat serius.

Bagi anak sekecil dia, yang baru sekali saja mendengarkan Kisah Natal, ia menceritakan semua rangkaian kejadian dengan amat cermat dan teliti, hingga ia tiba pada bagian di mana Maria membaringkan Bayinya dalam palungan. Mulailah Misha bergaya. Ia membuat sendiri penutup akhir Kisah Natalnya. Katanya:

'Dan ketika Maria membaringkan Bayinya dipalungan, Bayi Yesus melihat aku. Ia bertanya apakah aku punya tempat tinggal. Aku katakan kepada-Nya bahwa aku tidak punya mama dan juga tidak punya papa, jadi aku tidak punya tempat tinggal. Kemudian Bayi Yesus mengatakan bahwa aku boleh tinggal bersama Dia. Tetapi aku katakan bahwa aku tidak bisa. Bukankah aku tidak punya apa-apa yang bisa kuberikan sebagai hadiah kepada-Nya seperti yang dihadiahkan orang-orang dalam kisah itu?

Tetapi aku begitu ingin tinggal bersama-Nya, jadi aku berpikir-pikir, "Apa ya, yang aku punya yang bisa dijadikan hadiah untuk-Nya." Aku pikir, barangkali kalau aku membantu membuat-Nya merasa hangat, itu bisa jadi hadiah yang bagus.

Jadi aku bertanya kepada Yesus, "Kalau aku menghangatkan-Mu, apakah itu bisa dianggap sebagai hadiah?" Dan Yesus menjawab, "Kalau kamu menjaga dan menghangatkan Aku, itu akan menjadi hadiah terindah yang pernah diberikan siapapun pada-Ku."

Demikianlah, aku menyusup masuk dalam palungan itu. Yesus memandangku dan berkata bahwa aku boleh kok tinggal bersama-Nya untuk selamanya.'
Misha dan Yesus
Saat si kecil Misha selesai bercerita, kedua matanya telah penuh air mata yang kemudian meleleh membasahi pipinya yang mungil. Wajahnya ia tutupi dengan kedua tangannya, kepalanya ia jatuhkan ke atas meja. Seluruh tubuh dan pundaknya berguncang hebat saat ia menangis dan menangis.

Yatim piatu yang kecil ini telah menemukan seseorang yang tak akan pernah melupakan serta meninggalkannya, yaitu seseorang yang akan tinggal bersamanya dan menemaninya - untuk selamanya."

Kamis, 01 November 2012

Kisah Natal Terhebat Urut.2

Pada awal Oktober 1843, Charles Dickens melangkah dari serambi rumahnya yang bertiang dan terbuat dari batu dan bata di dekat Regent’s Park di London. Udara sejuk di senja hari menimbulkan perasaan lega setelah beberapa hari udara terasa lembab yang tidak biasanya. Si pengarang memulai jalan malamnya melalui apa yang disebutnya “jalanan hitam” di kotanya.

Dickens adalah seorang lelaki tampan berambut ikal cokelat serta mata yang berbuinar seperti biasa, yang kali ini tampak sangat murung. Ayah empat orang anak, yang berusia tiga puluh satu tahun itu merasa sudah berada di puncak kariernya. The Pickwick Papers, Oliver Twist, dan Nicholas Nickleby semuanya populer; dan Martin Chuzzlewit, yang dianggapnya sebagai novelnya yang terbagus, diterbitkan secara bersambung setiap bulan. Namun, sekarang, pengarang terkenal itu menghadapi masalah keuangan yang serius.

Beberapa bulan sebelumnya, penerbitnya mengungkapkan bahwa penjualan novel barunya tidak sebagus yang diperkirakan, dan mungkin perlu dilakukan pengurangan yang besar dalam pembayaran uang panjar bulanan yang biasanya diterima Dickens. Kabar itu mengagetkan si pengarang. Sepertinya bakat mengarangnya dipertanyakan. Kenangan masa kecilnya yang sengsara muncul kembali. Dickens menafkahi keluarga besar, dan pengeluarannya nyaris melebihi beban yang sanggup dipikulnya. Ayah dan saudara-saudaranya memohon agar diberi pinjaman. Istrinya, Kate, sedang mengandung anaknya yang kelima.

Sepanjang musim panas, Dickens mencemaskan tagihannya yang menggunung, terutama cicilan rumahnya. Dia menghabiskan waktu di sebuah resor tepi pantai, tapi di situ pun dia susah tidur dan berjalan menjelajahi tebing selama berjam-jam. Dia sadar bahwa dia membutuhkan sebuah gagasan yang dapat memberinya sejumlah besar uang, dan dia membutuhkan gagasan itu secepatnya. Tetapi, dalam keadaan yang begitu menekan jiwa, ternyata sulit bagi Dickens untuk mengarang. Setelah kembali ke London, dia berharap bahwa melakukan kebiasaannya berjalan-jalan di malam hari akan bisa menyulut imajinasinya.

Cahaya kuning lampu gas yang berkelap-kelip menerangi jalanan yang disusurinya melalui permukiman yang lebih baik di kota London. Lalu, secara berangsur-angsur, di saat dia semakin mendekati Sungai Thames, hanya cahaya redup dari jendela rumah-rumah petak sajalah yang menerangi jalanan, yang sekarang dipenuhi sampah dan dibatasi oleh selokan di kedua sisinya. Para wanita anggun dan kaum lelaki berpakaian rapi di daerah permukiman Dickens digantikan oleh kupu-kupu malam yang mesum, pencopet, preman, dan pengemis.

Pemandangan yang muram itu mengingatkannya pada sebuah mimpi buruk yang sering mengganggu tidurnya: Seorang anak lelaki berusia dua belas tahun duduk di sebuah meja kerja yang di atasnya terdapat setumpukan tinggi wadah semir sepatu hitam. Selama dua belas jam sehari, enam hari sepekan, anak itu menempelkan label pada tumpukan wadah yang seakan tak ada habisnya itu untuk mengais rezeki enam shilling yang membuatnya dapat bertahan hidup.

Melalui lantai gudang yang sudah lapuk itu, si anak dalam mimpi melihat ke dalam tempat penyimpanan makanan, dan di situ tampak sekawanan tikus berseliweran. Kemudian, dia menengadah, melihat ke jendela yang penuh kotoran, dan dari jendela itu menetes air yang terbentuk oleh dinginnya cuaca London di musim dingin. Cahaya matahari mulai meredup, seiring dengan meredupnya harapan si anak. Ayahnya ditahan di penjara oleh penagih utang, sementara dia hanya menerima satu jam pelajaran sekolah pada saat istirahat makan malam di gudang itu. Dia merasa tak berdaya, ditelantarkan. Mungkin tak akan pernah ada perasaan gembira, riang, atau harapan lagi…

Ini bukanlah adegan yang diinginkan si pengarang. Adegan ini mirip dengan pengalamannya di masa kecilnya dulu. Untunglah, ayah Dickens mewarisi sejumlah uang, yang membuatnya dapat membayar semua utangnya dan keluar dari penjara–dan anak lelakinya yang masih kecil itu tidak mengalami nasib yang sengsara. Sekarang, ketakutan tidak bisa membayar utangnya sendiri terus menghantui Dickens. Dengan lesu, dia memulai perjalanan pulan dari acara jalan-jalannya yang panjang itu, sama sekali belum punya gagasan untuk kisah “ceria dan riang” yang ingin diceritakannya. Tidak berbeda dengan saat dia memulai acara jalan-jalannya.

Namun, saat semakin dekat dengan rumah, dia merasakan ada sekelebatan ilham. Bagaimana kalau menulis kisah Natal! Dia akan menulis sebuah cerita untuk orang-orang yang berpapasan dengannya di jalanan hitam kota London. Orang-orang yang hidup dan berjuang dengan dihantui perasaan takut dan kerinduan yang pernah dirasakannya dulu, orang-orang yang haus akan secercah kebahagiaan dan harapan.

Tapi, Natal sudah akan tiba kurang dari tiga bulan lagi! Mana mungkin dia sanggup menyelesaikan tugas sebesar itu dalam waktu sesingkat itu! Naskah karangannya harus pendek, jelas bukan sebuah novel lengkap. Naskah itu harus sudah rampung menjelang akhir November agar masih sempat dicetak dan didistribusikan tepat menjelang penjualan pernak-pernik Natal. Agar cepat, dia mendapatkan gagasan untuk mengadaptasi cerita hantu Natal dari sebuah bab The Pickwick Papers.

Dia akan mengisi ceritanya dengan berbagai adegan dan beberapa tokoh yang digemari pembacanya. Akan ada tokoh seorang anak kecil yang sakit-sakitan, yang ayahnya jujur namun tidak cakap, dan sebagai pusat cerita, akan ada seorang lelaki tua yang jahat dan egois, yang hidungnya bengkok dan pipinya keriput. Di saat hari-hari sejuk di bulan Oktober semakin mendekati bulan November yang semakin dingin, naskah itu terus berkembang, halaman demi halaman, dan ceritanya mulai membentuk. Alur cerita pokoknya cukup sederhana sehingga mudah dipahami anak-anak, namun membangkitkan gagasan yang bisa menggugah kenangan indah dan perasaan nyaman pada hati orang dewasa.

Setelah beristirahat sendirian di apartemennya yang dingin dan kosong pada malam Natal, Ebenezer Scrooge, seorang pengusaha London yang kikir, didatangi roh mitra usahanya yang sudah meninggal, Jacob Marley. Karena semasa dia masih hidup dikuasai oleh sifat serakah dan perasaannya yang tidak peka pada temannya, roh Marley terus gentayangan di dunia dengan dirantai karena sikapnya yang selalu tidak peduli pada sesama. Dia memperingatkan Scrooge agar mau berubah kalau tidak mau mengalami nasib yang sama dengannya. Hantu Natal Masa Lalu, Hantu Natal Masa Sekarang, dan Hantu Natal Masa Mendatang bermunculan dan memperlihatkan pada Scrooge berbagai pemandangan memilukan dari kehidupannya dan apa yang akan terjadi jika dia tidak memperbaiki cara hidupnya. Dengan perasaan yang sarat dengan penyesalan, Scrooge meninggalkan sifatnya yang egois dan berubah menjadi orang yang baik hati, dermawan, dan penuh cinta kasih yang berhasil memetik pelajaran dari semangat Natal yang sejati.

Bersambung ke “Kisah Natal Terhebat Urutan Kedua yang Pernah Dikisahkan, Bagian Kedua”

Dikutip dari buku “Everyday Greatness 63 Kisah + 500 Kata-kata Bijak Terbaik untuk Menemukan Makna Hidup” Ditulis oleh Thomas J. Burns
Halaman 250-253

Jumat, 19 Oktober 2012

Rahasia Kedamaian Ditengah Badai

“Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur.

Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: “Tuhan, tolonglah, kita binasa.”
Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali.” Matius 8:24-26

Peristiwa ini terjadi ketika Yesus bersama murid-muridNya sedang ada di dalam perahu mengarungi danau. Angin ribut datang melanda danau tersebut. Dalam Markus 4:37 disebut dengan angin taufan yang sangat dahsyat.

Angin taufan seperti ini bertiup sangat kencang sekali, ke segala penjuru, atas dan bawah, hingga bisa memporak-porandakan rumah-rumah. Bisa dibayangkan gelombang seperti apa yang dapat ditimbulkan pada saat angin jenis ini melanda sebuah danau. Tidak akan ada orang yang berani untuk melintasi danau tersebut dengan sebuah perahu.

Pada saat kejadian itu, para murid sangat ketakutan. Hal ini sangat manusiawi karena perahu mereka diombang-ambingkan oleh gelombang besar dan ditiup oleh angin yang sangat dahsyat.

Ketika mereka merasa bahwa mereka memerlukan pertolongan, mereka mendapati bahwa Yesus dengan tenangnya dapat tidur di dalam kondisi seperti itu. Lalu mereka-pun membangunkan Yesus agar memperoleh pertolongan dariNya.
Hal ini layaknya kehidupan kita yang tidak lepas dari gelombang badai yang berupa masalah yang dapat datang dengan tiba-tiba. Kita dapat diombang-ambingkan oleh masalah yang kita alami. Kita bisa menjadi sangat ketakutan. Bahkan tidak sedikit dari kita yang datang mencari pertolongan pada Tuhan ketika masalah tersebut datang menimpa kita dengan kerasnya.

Terima ayat Alkitab melalui Facebook. Ayo gabung dengan lebih dari 32.000 member di Facebook Page Pelita Hidup. Klik like berikut ini:

Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari melalui kisah ini. Berikut ini rahasia agar kita tetap tenang dalam menghadapi badai kehidupan:
1. Jangan Takut

Tuhan Yesus bertanya kepada murid-muridNya, “Mengapa kamu takut?”
Masalah sebesar dan sekeras apapun boleh datang menimpa kita, tetapi biarlah kita tidak takut dalam menghadapinya. Kenapa? Karena kita punya Yesus, Dia ada dalam satu perahu bersama-sama dengan kita. Bersama Yesus kita akan lakukan perkara besar. Roh yang ada di dalam kita lebih besar dari roh yang ada di dunia ini. Lalu mengapa kita harus takut?

Rahasia pertama agar kita dapat tenang dan berada dalam kedamaian adalah tidak takut. Jangan takut apa yang akan kita hadapi dan akan kita jalani. Hidup ini tidak akan lepas dari berbagai masalah.

Jika berani menghadapi dan menjalani apa yang kita alami sekarang, Yesus akan memberi kita kekuatan dan memberikan jalan keluar bagi kita. Dia akan memberikan kemenangan bagi masalah kita.

2. Percaya Sepenuhnya

Tuhan Yesus menyebut murid-muridNya sebagai orang yang kurang percaya. Mengapa demikian? Karena murid-muridNya tetap ketakutan dalam keadaan demikian, walaupun mereka tahu bahwa Yesus ada bersama-sama dengan mereka.

Mereka kurang percaya akan apa yang dapat Yesus lakukan jika mereka mengalami bahaya.

Apa yang tidak dapat Tuhan lakukan dalam hidup kita? Selama kita hidup berjalan bersama Yesus, maka Dia akan menuntun dan menopang hidup kita. Bahkan ketika kita berjalan dalam lembah kekelaman, Dia tetap ada di samping kita.

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. ” Mazmur 23:4
Percaya sepenuhnya kepada Tuhan. Dia sanggup melakukan segala perkara. Tiada yang mustahil bagi Dia.

Kedua hal di atas, yaitu “Jangan Takut” dan “Percaya Sepenuhnya“, akan dapat membantu kita memperoleh kedamaian di tengah badai kehidupan yang datang menerpa. Tidak ada hal lain selain kedamaian dalam menghadapi masalah kita yang dapat membantu kita untuk meraih kemenangan di dalamnya.

Biarlah kita tidak takut lagi akan segala hal yang sedang menimpa kita dan biarlah kita tetap percaya seutuhnya kepada kuasa Tuhan yang sanggup melakukan segala perkara dalam hidup kita. Haleluya!

“Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;

Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.

Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.

Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.” Mazmur 23:1-6

Senin, 01 Oktober 2012

Surat Kasih Dari Bapa

[slideshow_deploy id='103']

Anak-Ku……

Engkau mungkin tidak mengenal Aku, tetapi Aku mengenal segala sesuatu tentang dirimu – Mazmur 139:1
Aku tahu kalau engkau duduk atau berdiri – Mazmur 139:2
Aku mengerti segala jalanmu – Mazmur 139:3

Setiap helai rambut kepalamu, terhitung semuanya – Matius 10:29-31
Karena engkau diciptakan dalam gambar dan rupa-Ku – Kejadian 1:26-27

Di dalam-Ku engkau hidup, engkau bergerak dan engkau ada – Kisah Para Rasul 17:28
Sebab engkau ini adalah keturunan-Ku – Kisah Para Rasul 17:28
Aku mengenal engkau sejak sebelum engkau ada dalam kandungan – Yeremia 1:4-5
Aku memilih engkau dari semula sebelum Aku menciptakan segalanya – Efesus 1:4-5

Engkau ada bukan karena suatu kesalahan, karena hari-harimu ada tertulis dalam kitab-Ku -. Mazmur 139:15-16
Aku telah menentukan waktu yang tepat untuk kelahiran dan di mana engkau akan hidup – Kisah Para Rasul 17:26

Kejadianmu dahsyat dan ajaib – Mazmur 139:14
Karena Aku menenun engkau dalam kandungan ibumu – Mazmur 139:13
Dan mengeluarkan engkau pada hari engkau dilahirkan – Mazmur 71:6

Seringkali Aku tidak dipahami oleh mereka yang tidak mengenal Aku – Yohanes 8:41-44
Aku tidak berada di tempat jauh dan murka, tetapi Aku adalah kasih yang sempurna -
1 Yohanes 4:16
Dan adalah kerinduan-Ku untuk mengaruniakan kasih-Ku untukmu – 1 Yohanes 3:1
Semua itu karena engkau adalah anak-Ku dan Aku adalah Bapamu -. 1 Yohanes 3:1

Aku memberikan lebih dari yang dapat diberikan bapamu yang di dunia – Matius 7:11
Karena Akulah Bapamu di surga yang adalah sempurna – Matius 5:48

Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna engkau terima dari tangan-Ku – Yakobus 1:17
Karena Akulah pemeliharaanmu dan Aku membri semua yang engkau perlukan - Matius 6:31-33
Rancangan-Ku yang diberikan kepadamu adalah hari depan yang penuh harapan – Yeremia 29:11
Karena Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal – Yeremia 31:3

Terima ayat Alkitab melalui Facebook. Ayo gabung dengan lebih dari 32.000 member di Facebook Page Pelita Hidup. Klik like berikut ini:

Pikiran-Ku terhadap engkau tidak terhitung seperti pasir di tepi pantai – Mazmur 139:17-18
Dan Aku bergirang karena engkau dengan sukacita dan sorak-sorai – Zefanya 3:-17

Aku tidak perrnah berhenti berbuat baik kepadamu – Yeremia 32:40
Karena engkaulah harta kesayangan-Ku – Keluaran 19:5

Aku merindukan untuk mengokohkan engkau dengan segenap hati-Ku dan jiwa-Ku – Yeremia 32:41
Aku akan menunjukkan kepadamu hal-hal yang besar dan ajaib – Yeremia 33:3
Jika engkau mencari Aku dengan segenap hatimu, engkau akan menemukan Aku – Ulangan 4:29

Bergembiralah karena Aku, maka Aku akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu – Matius 37:4
Karena Akulah yang mengerjakan di dalammu kemauan itu – Filipi 2:13

Aku dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang engkau plkirkan – Efesus 3:20
Karena Akulah yang meng-anugrahkan penghiburan abadi kepadamu -
2 Tesalonika 2:16-17

Akulah juga Bapa yang menghiburmu dalam segala penderitaanmu – 2 Korintus 1:3-4
Ketika engkau patah hati, Aku berada dekat kepadamu – Mazmur 34:19
Seperti seorang gembala menggembalakan dombanya. Aku membawa engkau dekat ke hati-Ku – Yesaya 40:11

Suatu hari Aku akan menghapus semua air mata dari matamu – Wahyu 21:3-4
Dan Aku akan mengangkat semua kesusahan yang engkau derita di atas bumi – Wahyu 21:3-4
Akulah Bapamu, dan Aku mengasihi engkau seperti Aku mengasihi putra-Ku Yesus – Yohanes 17:23
Karena di dalam Yesus, kasih-Ku kepadamu dinyatakan – Yohanes 17:26

Dialah gambar wujud dari keberadaan-Ku – Ibrani 1:3
Ia datang untuk menyatakan bahwa Aku di pihakmu, dan bukan untuk melawamu – Roma 8:31
Dan untuk memberitahumu bahwa Aku tidak memperhitungkan pelanggaranmu - 2 Korintus 5:18-19

Yesus mati supaya engkau dan Aku dapat diperdamaikan – 2 Korintus 5:18-19
Kematian-Nya adalah pernyataan terbesar dari kasih-Ku untukmu – 1Yohanes 4:10
Aku menyerahkan semua yang Aku sayangi supaya Aku mendapat kasihmu -
Roma 8:31-32

Jika engkau menerima anugrah Anak-Ku Yesus, engkau juga menerima Aku -
1 Yohanes 2:23
Dan tidak lagi ada yang akan memisahkan engkau dari kasih-Ku – Roma 8:38-39

Kembalilah dan Aku akan mengadakan pesta terbesar yang pernah ada di surga – Lukas 15:7
Selamanya Aku adalah Bapa. dan selamanya Aku tetaplah Bapa – Efesus 3:14-15

PertanyaanKu adalah – Maukah engkau menjadi Anak-Ku? – Yohanes 1:12-13
Aku menanti-nanti untukmu – Lukas 15:11-32