Sabtu, 11 Agustus 2012

Tak Ingin Putus [Jarak Jauh]

wtv4
Dalam menjalin hubungan dengan orang yang dicintai, komunikasi merupakan hal nomor satu yang penting.

Saya pernah nih, menjalin hubungan jarak jauh dan akibatnya hancur gara-gara komunikasi yang buruk.

Nostalgia sedikit, jadi ceritanya si dia sering tidak mau ngangkat telpon karena malu digodain si ortu. Apalagi sinyal telepon si dia emang gak gitu bagus disana, alhasil sms sering telat masuk. Ngebalesnya juga sering telat. Nelpon susah, suara putus-putus lagi. Amburadul deh.

Nah biar ini gak terjadi buat kamu-kamu pren, kudu menggunakan komunikasi anti tulalit. Nah loh apaan tulalit kayak ponsel jadul aje.

Kadang nih, kita salah mengartikan komunikasi yang baik dengan pacar. Contohnya aja kita curhat masalah terbaru, ngomelin kebiasaannya yang tak kita sukai.

Curhat sih tak ada salahnya, tapi jangan sampe si dia jadi objek pelampiasan. Ceritakan dengan jelas pesan dalam ceritamu itu. Selain itu, kita juga harus mau jadi pendengar yang baik. Pendengar yang baik juga berarti kita mengerti dengan maksud si dia dan meresponnya. Responnya pun tak boleh menyalahkan/membenarkan dengan nada yang tak kalah heboh.

Bagaimana dengan LDR? Intinya sama, komunikasi yang baik. Jaman sekarang, komunikasi jauh lebih gampang. Ada BBM, SMS, Telpon dimana saja, Facebook, MIRC, Skype, de el el.

Dan yang tak kalah penting, bicara apa adanya. Jangan karena cinta trus kamu nutupin kejelekannya dia, disimpen dalam hati dan dikubur bersama kapsul waktu sampai saatnya kapsul tersebut meledak.

Saya juga mengalami hal yang sama, yakni pasangan tak mau terbuka. Alhasil saat berantem hebat, keluarlah semua uneg-uneg si dia. Sangat disayangkan. Seandainya dia berkata tak suka, mungkin pertengkaran itu takkan pernah terjadi.

Jalani hubungan dengan santai, dengan komunikasi yang baik serta nyambung. Ingat, sayang saja tak cukup!

Jumat, 10 Agustus 2012

Menjadi Seorang Karyawan

wqf3q4t

Menjalani Rutinitas dengan perasaan “Happy” dan Riang tentu menjadi harapan setiap orang yang memutuskan menjadi seorang Pekerja (karyawan). Kenapa orang senang bekerja..? Ini bukan lagi menjadi sebuah pertanyaan dengan jawaban pasti, karena kondisi saat ini banyak faktor yang membuat Anda memilih jalan menjadi seorang Employee (Karyawan) dibandingkan menjadi Pengusaha atau Business Owner.

Adakalanya Anda berpikir Bekerja menjadi Kewajiban sebagai Tulang Punggung Keluarga, adakalanya Anda merasakan sebagai Keterkungkungan karena Keterbatasan Relasi untuk memilih Pekerjaan lain, dan adakalanya Anda menjadikan Pekerjaan sebagai Jalan Hidup sebagai bagian Aktualisasi Diri, sehingga mampu melaluinya dengan Semangat dan Antusias tinggi. Banyak juga saat ini orang memilih Bekerja karena alasan seperti “Bekerja adalah Ibadah”, “Bekerja adalah Panggilan Jiwa”, dll.

Berikut beberapa Alasan orang melewati hari-harinya dengan bekerja yakni:


Desakan Orang Tua. Setelah mereka memberikan Waktu dan Uang mereka untuk menyekolahkan Anda, tentunya setelah itu pertanyaan yang akan muncul pertama kali adalah, “Sudah Melamar Kerja kemana saja Kamu, Nak..?”. Inilah Alasan yang paling sering timbul kenapa Anda memilih bekerja, sebagai Imbalan bagi Orang Tua.
Kebutuhan Ekonomi. Anda yang telah berkeluarga ber”Kewajiban” dan ber”Tanggung Jawab” menghidupi Istri dan Anak-anak, bagi seorang wanita memiliki kepuasana jika dapat membantu Suami dalam perputaran roda ekonomi rumah tangga.
Ingin Menghasilkan Uang. Lulusan Perguruan Tinggi ata bahkan lulusan Sekolah Menengah Atas pun sangat excited keita dapat menghasilkan Uang dari hasil pekerjaan sendiri. Suatu kebanggaan Bekerja dan memperoleh Penghasilan setiap bulannya.
Bekerja itu “Mudah”. Anda merasa melamar kerja lebih mudah daripada membangun bisnis sendiri. Sudah pasti banyak orang berpendapat bekerja lebih mudah daripada wirausaha, karena banyak faktor dan parameter dalam membangun jiwa entrepreneurship. Kebanyakan bisnis dibangun dengan Modal dan Jaringan Besar, sehingga wawasan tentang kewirausahaan belum mendarahdaging bagi para lulusan baru.
Menjadi Orang yang “Tampak Baik”. Pada saat Anda melihat teman yang telah lebih dahulu menjadi seorang karyawan dalam perusahaan nasional, dan Anda memperhatikan perubahan yang dialaminya dibanding jaman sekolah dulu, Anda sangat tertarik memiliki Penampilan (performing) sebagaimana mereka.
Orang dan Keluarga juga Bekerja. Karena Tradisi keluarga yang Bekerja setelah Lulus Sekolah, membuat Pikiran Bawah Sadar Anda menggiring kearah yang sama untuk bekerja. Anda tentu pernah memperhatikan sebuah Keluarga yang berprofesi sebagai Guru, mulai Kakek, Bapak dan Ibu, Paman, Bibi atau Kakak mereka melakukan pekerjaan sebagai Guru.
Tidak ada yang Lebih Baik daripada Bekerja. Bahasa lain dari ini adalah “Aktualisasi Diri”. Anda merasa jika Latar Belakang Pendidikan Anda akan sia-sia jika hanya dipergunakan untuk berdagang kelontong atau membuka usaha Franchise. Anda melihat jiwa Anda tidak berkompromi jikalau tidak bekerja. Pilihan Bekerja merupakan Panggilan Hati Nurani sebagai Konsekuensi Pendidikan dan Pengetahuan.

Sejatinya Anda Bekerja atau Berwirausaha, merupakan Hak dan Kewajiban masing-masing Individu dalam menjalani Hidupnya. Melakoni Hidup dengan berbagai macam cara adalah pilihan Anda dan menjadi bagian dari Passion of Life. Bekerja dalam Hidup sebagai Karyawan atau Bekerja membangun Usaha Sendiri sebagai Business Owner adalah pilihan yang sama-sama baik jika dilakoni sesuai norma yang ada.

Kamis, 09 Agustus 2012

Spesies Manusia di China

148058_rekonstruksi-tampang-manusia-kuno-di-gua-gua-china_300_225

Gabungan peneliti China dan Australia menemukan spesies manusia berbeda yang hidup sampai belasan ribu tahun lalu di daratan China. Spesies ini diduga berbeda dengan Homo Sapiens sapiens atau manusia modern sekarang karena memiliki karakter kuno atau arkais, meski juga memiliki ciri modern.

Riset ini dilakukan atas fosil yang ditemukan di Gua Longlin di Provinsi Guangxi yang terletak di timur laut China dan Maludong, Provinsi Yunan, China, di selatan China. Para peneliti yang antara lain dari University of New South Wales; Yunnan Institute of Cultural Relics and Archeology; dan La Trobe University, Melbourne, ini mengambil sampel tengkorak, rahang bawah dan gigi dari dua lokasi yang berbeda itu.

Para peneliti menyimpulkan, sampel-sampel itu muncul dari populasi yang sama, memperlihatkan campuran bentuk manusia modern, manusia arkais dan sejumlah tampilan tak biasa. Penanggalan karbon atas arang yang ditemukan bersama fosil adalah sekitar 14.000 sampai 11.500 tahun yang lalu atau di masa menjelang akhir zaman es.

Mereka memiliki karakteristik manusia modern karena memiliki antara lain gigi depan yang kecil dan tulang tengkorak atas yang tipis. Namun, fosil ini juga membawa ciri arkais seperti rahang bawah yang maju dan dalam, volume tengkorak yang lebih kecil dari manusia modern dan geraham yang besar.

Penemuan fosil manusia yang memiliki karakter kombinasi tak biasa khususnya di Eurasia. Di Afrika, ada beberapa temuan fosil zaman es yang memiliki karakter kombinasi seperti ini.

Seperti dilansir jurnal Public Library of Open Science (PLoS) One, yang dipublikasikan pada 14 Maret 2012, ada dua kemungkinan mereka dari mana. Pertama, mereka mewakili populasi arkais terakhir yang serupa dengan yang ditemukan di Afrika Utara seperti yang tampak di Dar-es-Soltane dan Temara. Kemungkinan kedua, Asia Timur telah dikolonisasi dalam serangkaian gelombang kedatangan di zaman es, sehingga mereka merupakan substruktur populasi di Afrika yang menyebar ke Eurasia.

Dalam peta penyebaran manusia yang disusun berdasarkan penanda genetika, penyebaran manusia dari Afrika ke Asia telah terjadi sejak 70 ribu tahun lalu. Namun, beberapa migrasi diduga terjadi kemudian seperti disimpulkan dari ekstraksi DNA atas fosil manusia kuno di Gua Denisova di Siberia yang berusia kurang dari 50 ribu tahun yang lalu.

DNA Denisova ini diketahui memiliki gen Homo Neandertal dan gen Homo Sapiens yang kini dikenal sebagai aborijin atau Melanesia. Temuan ini telah diterjemahkan, satu, terjadi perkawinan antara Orang Denisova dengan manusia pertama yang menghuni kawasan itu; dan kedua, Asia Tenggara pernah diduduki populasi arkais ini masa awal zaman es.

Apakah mungkin, populasi kuno di China ini adalah orang-orang Denisova ini? Para peneliti di China ini belum bisa melakukan ekstraksi DNA atas sampel fosil yang mereka lakukan karena kurang material genetika yang bisa diperbaiki lagi.

Baca Selanjutnya : http://www.suatufakta.com/2012/03/spesies-manusia-berbeda-dulu-hidup-di.html#ixzz2Fo9UHkwY

Rabu, 08 Agustus 2012

Gagal...! Alasan & Cara Memperlakukannya.

sukses Hambatan sukses dapat diatasi sebenarnya dari dalam diri sendiri terlebih dahulu sebelum melihat kepada aspek dari luar. Aspek Diri Sendiri lebih dominan menjadi penyebab banyak Kegagalan dalam Karir maupun Bisnis. Ketahuilah dimana Anda berada ketika melakukan Proses Kesuksesan, sehingga hambatan tersebut dapat mudah diatasi.

Beberapa hal yang menjadi Penyebab Anda Gagal diantaranya:

Tujuan yang Tidak Inspiratif

Dalam menentukan Tujuan banyak orang lebih mendahulukan Materi yang Kasat Mata, speerti Uang, Rumah, Mobil Mewah, Deposito, Emas dan Perak, Surat Saham dan lainnya. Semua tidak salah, namun bukan pula menjadi Pembenaran dalam arti sebuah Kesuksesan. Inti dari sebuah kesuksesan adalah Hal yang menarik Hati dan Jiwa Anda dalam sebuah Ketertarikan yang tidak mudah terukur dalam bentuk Materi. Daripada Anda berpikir mencari Barang dan Benda kasat mata, lebih baik Anda merenungkan hari sejenak dan mencari Hakikat Kesuksesan dalam Hidup Anda, seperti Kebebasan Berbicara, Keleluasaan Waktu, Keteraturan Makan dan Minum serta masih banyak lainnya yang mungkin Anda sendiri tercengang ketika mengetahuinya. Carilah Inspirasi dalam Keseharian Anda dan disanalah Anda akan menemukan Tujuan Inspiratif Hidup.

Takut Gagal

Tidak ada satupun orang yang mau bahkan merasakan sekedar perasaan Gagal. Setiap orang akan mudah merasa Takut Gagal daripada Takut akan Kegelapan dan Takut Jatuh dari sebuah Ketinggian. Anda Takut Gagal berarti Anda akan melewatkan kesempatan mengalami Periode Resiko yang mau tidak mau harus dilalui dalam proses Pembelajaran dan Kesuksesan. Ketika Anda perlu menemui Pimpinan Perusahaan dalam sebuah urusan Pribadi dan Anda tidak berani sekedar mengangkat gagang telepon untuk menanyakan kesempatan bertemu, maka Anda telah dengan sengaja melepas Potensi Sukses yang ada. Anda tidak akan pernah berhasil melewati Jabatan Pekerjaan ketika Anda takut untuk mengikuti Proses Assessment yang harus dilakukan. Anda pasti berhenti berusaha dalam sebuah Bisnis ketika takut akan berakhir dalam Kebangkrutan dan Kerugian. Anda perlu menerima Kenyataan bahwa Anda suatu waktu akan mengalami Kegagalan, namun jangan pernah Takut dalam Menghadapinya sebagai bagian Proses untuk Sukses.

Takut Sukses


Kebalikan dari Takut Gagal adalah Takut Sukses. Mungkin Anda akan tersenyum mendengar orang yang takut sukses, namun pada kenyataannya justru hal ini cukup banyak ditemui ketika seseorang telah berhasil melewati tahapan awal, yakni menghadapi Takut Gagal. Ketika rasa Takut Gagal telah dilewatinya dan tahapan keberhasilan mulai tampak sedikit demi sedikit, justru muncul perasaan baru yakni Takut Sukses. Dan ketika Kesuksesan secara Materi mulai terlihat, makin besar Rasa Takut nya, baik kepada diri sendiri maupun lingkungan sekitarnya. Jangan pernah menjadikan Kesuksesan sebagai Alasan Perubahan Pribadi dan Karakter Anda, yang mana hal ini akan semakin membuat Anda tidak Nyaman dan Tentram dengan Kondisi Sukses. Bayangkan betapa banyak kebahagiaan yang Anda alami ketika Sukses itu Datang, dengan semakin sering berbagi kepada sesama, menolong teman-teman dan membantu keluarga.

Jadwal Tidak Realistik

Membuat jadwal kegiatan yang menumpuk dalam seminggu justru menjadi boomerang dalam pencapaian sukses Anda. Pertimbangkan ketika Anda melakukan sekali sehari namun konsisten setiap hari dalam setahun. Apa yang terjadi pada saat Anda memungut hanya sebuah daun setiap pagi dan menyimpannya dalam setahun kemudian, maka Anda akan menemui gundukan Daun berjumlah 365 lembar. Namun bayangkan bahwa Anda harus memungut daun sebanyak 365 lembar dalam seminggu, yang pastinya akan memerlukan banyak Usaha dan Tenaga untuk melakukannya. Aturlah jadwal Anda untuk Jangka Pendek dan Jangka Panjang, jangan pernah memaksakan diri bagi sesuatu yang harus Anda lalui setahap demi setahap. Jangan menciptakan kekecewaan diri sendiri ketika Anda pun merasa tidak sanggup memenuhi tenggat waktunya. Jadilah orang yang Realistis dengan Kemampuan untuk meraih Kemauan.

Khawatir “Buntu”


Jalan buntu sesungguhnya bukan ujung jalan, melain bentuk penyelarasan arah dan tujuan dalam menggapai sukses. Ketika Anda merasa “Buntu” dalam Proses Pembelajaran, maka bukan berarti Anda akan menjadi Gagal karenanya. Ketika pada tahap awal Karir Profesional Anda mengalami dengan Signifikan dan kemudian akhirnya mandek, dalam waktu yang cukup lama, bukan menjadi alasan Anda menyerah dan Gagal. Ibarat Anda mendaki gunung, maka akan banyak ditemui Dataran-dataran Tinggi, namun bukan Puncak Gunung, dan ini pertanda Anda perlu “Menarik Nafas” untuk mempersiapkan diri mendaki lebih tinggi lagi. Disanalah momen Introspeksi bagi kelanjutan Sukses Anda.

Banyak Jalan menuju Roma, mengartikan pula bahwa Banyak Cara untuk Sukses, jangan pernah berhenti hanya karena sebuah kerikil, jangan pernah pula bersedih karena kondisi kering kerontang dalam perjalanan. Langkah Sukses adalah Langkah Anda melalui banyak Rintangan dan Hambatan yang mungkin membuat Anda lebih memilih Mundur untuk Gagal daripada Maju untuk Sukses.

Senin, 06 Agustus 2012

Bingung [Jadi Karyawan atau Pengusaha]

efeq
Bingung [Jadi Karyawan atau Pengusaha]...?????????????????????????
Pertanyaan di atas ramai diper­bin­cang­kan belakangan ini dan menjadi topik pembicaraan yang menarik. Pemicunya pun sudah dapat ditebak: se­minar-seminar motivasi yang kini semakin menjamur.

Berbagai seminar tersebut sangat me­narik dan sungguh menyemangati ki­ta untuk beralih profesi dari karyawan men­jadi pengusaha. Menjadi pengusaha me­mang sungguh menjanjikan. Kita dapat le­bih cepat mengumpulkan kekayaan dan se­kaligus menjadi orang yang terhormat. Menjadi pengusahapun berkontribusi langsung terhadap kemajuan suatu bangsa.

Konon suatu negara baru dapat di­kata­kan makmur bila jumlah wirausahanya mencapai 2% dari total penduduk. Bahkan sebuah hadits Nabi pun dikutip untuk memperkuat argumen ini. Hadits tersebut me­ngatakan bahwa 9 dari 10 pintu rezeki di­peroleh dengan berwirausaha.

Semua argumen tersebut telah men­jadi wacana yang mengemuka dalam ma­sya­rakat kita. Ini membuat banyak orang ban­ting stir menjadi pengusaha. Menjadi pengusaha seakan-akan menempatkan kita di posisi yang lebih terhormat daripada menjadi karyawan. Pengusaha adalah warga kelas satu sementara karyawan seakan menjadi warga kelas dua.

Bahkan seorang kawan saya yang bergaji puluhan juta rupiah pun ketika ditanya mengenai pekerjaannya sama sekali tidak menunjukkan kebanggaan dan hanya berkata singkat, “Saya ini hanya bu­ruh.” Kawan yang lain bilang, “ Saya hanya orang gajian. Saya masih bekerja dengan orang lain.” Padahal, boleh jadi nasibnya jauh lebih beruntung daripada mereka yang kini sudah beralih profesi menjadi pengusaha.

Rumput tetangga memang selalu le­bih hijau. Saya kira pepatah lama itu ma­sih relevan untuk menggambarkan kegalauan yang kini banyak diderita oleh para karyawan dan pengusaha. Karyawan merasa minder dan kehilangan kebanggaan terhadap pekerjaan mereka. Mereka me­rasa kalah set dengan teman-temannya yang telah menjadi pengusaha.

Sebaliknya banyak juga pengusaha yang malah membayangkan betapa nik­matnya menjadi seorang karyawan: tidak harus pusing memikirkan bagaimana mengembangkan usaha dan membayar gaji karyawan. Mereka baru menyadari bahwa menjadi pengusaha ternyata tidak mudah dan juga tidak aman.

Setelah menjalani usaha beberapa waktu lamanya mereka kini berhadapan dengan jalan buntu. Mereka tidak tahu lagi apa yang harus diperbuat untuk mengembangkan bisnisnya. Jadilah kedua kelompok itu menderita kegalauan yang tidak berujung.

Tujuan yang Salah


Kegalauan semacam itu mestinya tidak perlu terjadi kalau kita memulai segala se­suatu dengan tujuan yang benar. Namun, di sinilah letak masalahnya. Banyak orang yang menjalani profesi sebagai pengusaha maupun karyawan memulainya dengan tujuan yang salah. Atau bahkan mereka tidak pernah memikirkan tujuan apa pun tetapi hanya menjalani kehidupan sesuai dengan tren yang mutakhir.

Banyak orang banting stir menjadi peng­usaha karena menginginkan ke­ka­yaan yang berlimpah. Mereka sudah mem­ba­yangkan bahwa dengan kekayaan yang ber­limpah itu mereka bisa hidup dengan nyaman, bebas berbelanja serta berlibur dengan keluarga keluar negeri.

Selain itu, mereka juga akan memiliki waktu luang yang tidak terbatas. Para calon pengusaha itu mendambakan apa yang disebutnya sebagai work life balance. Ini yang tidak akan mereka dapatkan se­lama menjadi karyawan. Karena itu me­reka berlomba menjadi pengusaha agar mempunyai banyak waktu dengan anggota keluarga. Selain itu, ada juga yang menjadi pengusaha karena alasan ego: ingin men­jadi bos terhadap diri sendiri dan tidak mau lagi diperintah oleh atasan.

Semua alasan ini sungguh tidak tepat. Orang-orang yang menganut alasan ter­sebut sesungguhnya telah salah kaprah. Me­reka hanya membayangkan hal-hal yang nyaman saja dari seorang pengusaha. Mereka lupa bahwa menjadi pengusaha sesungguhnya berarti harus bekerja jauh lebih keras dibandingkan dengan menjadi karyawan.

Mereka lupa bahwa menjadi pengusaha akan membuat mereka ke­hilangan wak­tu lebih banyak karena tuntutan un­tuk selalu me­mikirkan bisnis. Mereka juga akan ber­ada pada 'zona tidak nyaman' karena bo­leh jadi akan senantiasa dibayangi oleh ri­siko kebangkrutan yang bisa terjadi kapan saja.

Menjadi pengusaha sesungguhnya ber­arti harus bekerja jauh lebih keras daripada menjadi karyawan. Keinginan untuk hidup enak dan mudah ini sesungguhnya sangat bertentangan dengan etos kerja pengusaha dan inilah yang sering membuat seorang pengusaha gagal dalam menjalankan bisnisnya.

Hal ini sesungguhnya bisa dicegah ka­lau kita mempunyai paradigma yang be­nar tentang wi­rausaha. Sesungguhnya alas­an terbaik untuk menjadi pengusaha ada­lah bagaimana agar kita bisa le­bih memanfaatkan po­tensi diri kita, me­ngem­bang­kan diri sebaik mungkin dan menjadi individu yang bernilai tambah bagi orang lain.

Yang Mana Calling Anda?


Yang menarik yang ingin saya sam­pai­kan di sini adalah bahwa tidak semua orang dikirim Tuhan ke dunia ini untuk menjadi pengusaha. Karena itu kita harus pandai-pandai membaca sinyal-sinyalnya. Anda mungkin berbakat menjadi peng­usaha kalau Anda mempunyai energi lebih yang tidak dapat terakomodasi dalam se­buah posisi di organisasi.

Anda mungkin juga mempunyai banyak ide yang akan sulit diwujudkan selama Anda berada di bawah kendali orang lain. Sinyal-sinyal itulah yang saya sebut dengan calling (panggilan). Panggilan itu sendiri sejatinya berasal dari Tuhan. Jadi ada orang yang memang sudah diutus Tuhan ke dunia ini untuk memberi manfaat kepada banyak orang dengan menjadi pengusaha. Mereka dibekali ide yang luar biasa banyak dan diberikan kemampuan yang luar biasa besar untuk membaca dan memanfaatkan peluang.

Sebaliknya, ada orang-orang tertentu yang calling-nya adalah sebagai pro­fesio­nal. Mereka juga dianugerahi talenta yang luar biasa dari Tuhan tetapi talenta tersebut bukanlah da­lam bentuk ke­mampuan mem­baca peluang se­perti yang di­miliki oleh pengusaha. Orang-orang seperti ini lebih cocok menjadi kar­yawan, karena dengan menjadi karyawan ini mereka bisa memberikan nilai tambah yang luar biasa kepada orang lain.

Mereka adalah para profesional yang menguasai bidangnya tetapi tidak ingin dibebani dengan berbagai risiko seperti yang dialami oleh para pengusaha.
Jadi kesimpulannya, setiap orang me­miliki calling-nya masing-masing apakah menjadi karyawan atau menjadi pengusaha, karena itu tugas kita semua adalah menemukan calling kita masing-masing dan menjalankan kehidupan sesuai dengan calling kita itu. Menjadi karyawan dan pengusaha itu sama mulianya sejauh kita bisa mengabdikan hidup kita untuk memberikan nilai tambah kepada sesama manusia.