Sabtu, 17 November 2012

KORUPSI [Penyalahgunaan]

Bentuk-bentuk penyalahgunaan

Korupsi mencakup penyalahgunaan oleh pejabat pemerintah seperti penggelapan dan nepotisme, juga penyalahgunaan yang menghubungkan sektor swasta dan pemerintahan seperti penyogokan, pemerasan, campuran tangan, dan penipuan.
Penyogokan: penyogok dan penerima sogokan

Korupsi memerlukan dua pihak yang korup: pemberi sogokan (penyogok) dan penerima sogokan. Di beberapa negara, budaya penyogokan mencakup semua aspek hidup sehari-hari, meniadakan kemungkinan untuk berniaga tanpa terlibat penyogokan.

Negara-negara yang paling sering memberikan sogokan pada umumnya tidak sama dengan negara-negara yang paling sering menerima sogokan.
1222


Duabelas negara yang paling minim korupsinya, menurut survey persepsi (anggapan tentang korupsi oleh rakyat) oleh Transparansi Internasional di tahun 2001 adalah sebagai berikut:

Australia
Kanada
Denmark
Finlandia
Islandia
Luxemburg
Belanda
Selandia Baru
Norwegia
Singapura
Swedia
Swiss
Israel

Menurut survei persepsi korupsi , tigabelas negara yang paling korup adalah:


Azerbaijan
Bangladesh
Bolivia
Kamerun
Indonesia
Irak
Kenya
Nigeria
Pakistan
Rusia
Tanzania
Uganda
Ukraina

Namun demikian, nilai dari survei tersebut masih diperdebatkan karena ini dilakukan berdasarkan persepsi subyektif dari para peserta survei tersebut, bukan dari penghitungan langsung korupsi yg terjadi (karena survey semacam itu juga tidak ada)
Sumbangan kampanye dan "uang haram"

Di arena politik, sangatlah sulit untuk membuktikan korupsi, namun lebih sulit lagi untuk membuktikan ketidakadaannya. Maka dari itu, sering banyak ada gosip menyangkut politisi.

Politisi terjebak di posisi lemah karena keperluan mereka untuk meminta sumbangan keuangan untuk kampanye mereka. Sering mereka terlihat untuk bertindak hanya demi keuntungan mereka yang telah menyumbangkan uang, yang akhirnya menyebabkan munculnya tuduhan korupsi politis.
Tuduhan korupsi sebagai alat politik

Sering terjadi dimana politisi mencari cara untuk mencoreng lawan mereka dengan tuduhan korupsi. Di Republik Rakyat Cina, fenomena ini digunakan oleh Zhu Rongji, dan yang terakhir, oleh Hu Jintao untuk melemahkan lawan-lawan politik mereka.

Mengukur korupsi

Mengukur korupsi - dalam artian statistik, untuk membandingkan beberapa negara, secara alami adalah tidak sederhana, karena para pelakunya pada umumnya ingin bersembunyi. Transparansi Internasional, LSM terkemuka di bidang anti korupsi, menyediakan tiga tolok ukur, yang diterbitkan setiap tahun: Indeks Persepsi Korupsi (berdasarkan dari pendapat para ahli tentang seberapa korup negara-negara ini); Barometer Korupsi Global (berdasarkan survei pandangan rakyat terhadap persepsi dan pengalaman mereka dengan korupsi); dan Survei Pemberi Sogok, yang melihat seberapa rela perusahaan-perusahaan asing memberikan sogok. Transparansi Internasional juga menerbitkan Laporan Korupsi Global; edisi tahun 2004 berfokus kepada korupsi politis. Bank Dunia mengumpulkan sejumlah data tentang korupsi, termasuk sejumlah Indikator Kepemerintahan.

Rabu, 07 November 2012

Arti Natal yang Sesungguhnya

11626fc90

Pada masa yang silam, di Persia memerintah seorang raja yang baik hati serta bijaksana. Ia mencintai rakyatnya. Ia ingin tahu kehidupan mereka. Ia ingin tahu penderitaan yang harus mereka alami. Seringkali ia berpakaian seperti seorang pekerja atau bahkan pengemis dan pergi ke kampung-kampung miskin. Tak seorang pun yang ia kunjungi pernah mengira bahwa ia adalah raja mereka.

Suatu ketika ia mengunjungi seseorang yang amat miskin yang tinggal di sebuah gua. Ia makan makanan kasar yang dimakan orang miskin itu. Ia berbicara kepadanya dengan kata-kata yang lembut serta menghibur. Lalu ia pergi. Di kemudian hari, ia kembali mengunjungi orang miskin itu lagi dan dengan jelas mengatakan kepadanya, “Aku ini rajamu.”

Alangkah terkejutnya si orang miskin itu! Raja menyangka bahwa orang itu pasti akan meminta suatu hadiah atau pertolongan darinya. Tetapi, ternyata tidak. Sebaliknya, orang miskin itu berkata:

“Engkau meninggalkan istanamu serta kemuliaanmu untuk mengunjungiku di tempat yang gelap serta kumuh ini. Engkau makan makanan kasar yang aku makan. Engkau membawa kebahagiaan dalam hatiku. Bagi orang lain engkau memberikan hadiah-hadiah berlimpah. Bagiku engkau telah memberikan dirimu sendiri.”

Sumber: “Meaning of Christmas”; Societas Verbi Divini, USA Western Province; www.svd-ca.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

Selasa, 06 November 2012

12 hari natal

"12 Days of Christmas"
5fd78580

A Partridge in a Pear TreeSalah satu dari lagu-lagu yang populer dalam Masa Natal adalah lagu “The 12 Days of Christmas”. Lagu tersebut menggambarkan serangkaian hadiah yang 'aneh' yang 'diberikan oleh 'kekasihku yang sejati kepadaku.' Termasuk di antaranya Seekor Ayam Hutan di atas Pohon Per dan 5 Cincin Emas.

Bagi kebanyakan orang, lagu tersebut hanyalah sebuah lagu konyol yang membutuhkan ingatan yang kuat agar dapat menyanyikannya hingga selesai. Sesungguhnya, lagu tersebut mengandung arti yang amat istimewa. Di dalamnya terdapat ringkasan ajaran iman Katolik Roma tentang Natal.

Dari tahun 1558 hingga tahun 1829 banyak orang Kristen di Inggris menentang Gereja Katolik. Mereka mengeluarkan sebuah undang-undang yang melarang para orangtua Katolik mengajarkan iman mereka kepada anak-anak mereka. Suatu kelompok yang disebut “Kaum Puritan” bahkan melarang segala bentuk perayaan Natal karena dianggap “terlalu Katolik.”

Dalam masa itulah seorang penulis lagu Katolik di Inggris menuliskan lagu “The Twelve Days of Christmas” sebagai lagu katakese anak-anak Katolik. Arti tersembunyi dari hadiah-hadiah dalam lagu tersebut dimaksudkan untuk membantu anak-anak mengingat pelajaran iman mereka. “Kekasih Sejati” dalam lagu tersebut bukanlah kekasih atau pacar dalam arti duniawi, melainkan Allah Bapa sendiri. “Aku” yang menerima hadiah-hadiah tersebut adalah semua orang yang telah dibaptis. Seekor ayam hutan di atas pohon per adalah Yesus Kristus. Dalam lagu tersebut, Kristus digambarkan sebagai induk ayam yang burpura-pura terluka untuk mengelabui pemangsa yang hendak menerkam anak-anaknya yang masih kecil dan lemah. Arti simbol-simbol yang lain adalah:

Ten Lords a-leaping
Dua ekor burung merpati (two turtle doves) = Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Tiga ayam betina Perancis (three French hens) = iman, harapan dan kasih.

Empat burung berkicau (four calling birds) = keempat Injil.

Lima cincin emas (five golden rings) = 5 Sakramen yang dapat diterima oleh semua orang Katolik, yaitu: Baptis, Komuni, Penguatan dan Perminyakan. Dua Sakramen yang lain, yaitu: Perkawinan dan Imamat hanya diperuntukkan bagi mereka yang dipanggil untuk maksud tersebut.

Geese a-layingEnam itik bertelur (six geese a-laying) = enam hari penciptaan.

Tujuh angsa berenang (seven swans a-swimming) = tujuh karunia Roh Kudus.

Delapan gadis memerah susu (eight maids a-milking) = delapan Sabda Bahagia.Maid A-milking

Sembilan nyonya menari (nine ladies dancing) = sembilah buah-buah Roh Kudus.

Sepuluh tuan melompat (ten lords a-leaping) = sepuluh Perintah Allah.

Sebelas pemain suling bermain musik (eleven pipers piping) = sebelas rasul yang setia.

Drum
Duabelas pemain genderang memukul genderangnya (twelve drummers drumming) = 12 pokok iman dalam Syahadat Para Rasul.



sumber : 1. News For Kids, Rm Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com; 2. Romo Francis J. Peffley; Father Peffley's Web Site; www.transporter.com/fatherpeffley
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

Minggu, 04 November 2012

DUA BAYI DALAM PALUNGAN

Dua Bayi dalam Palungan
11472cd20

Pada tahun 1994, dua orang misionaris Amerika mendapat undangan dari Departemen Pendidikan Rusia untuk mengajar Moral dan Etika berdasarkan prinsip-prinsip Alkitab. Mereka mengajar di penjara-penjara, kantor-kantor, departemen kepolisian, pemadam kebakaran dan di panti asuhan.

Panti Asuhan yang mereka kunjungi cukup besar dengan sekitar seratus anak laki-laki dan perempuan yatim piatu penghuninya. Mereka adalah anak-anak yang dibuang, ditinggalkan dan sekarang dirawat dalam program pemerintah.

Inilah kisah para misionaris tersebut:

"Waktu itu menjelang Natal 1994, saatnya anak-anak yatim piatu kita - untuk pertama kalinya - mendengarkan kisah Natal. Kami bercerita tentang Maria dan Yusuf, bagaimana setibanya di Bethlehem, mereka tidak mendapatkan penginapan hingga mereka akhirnya menginap di sebuah kandang hewan. Di kandang hewan itulah akhirnya Bayi Yesus lahir dan dibaringkan bunda-Nya dalam sebuah palungan.

Sepanjang kisah itu, anak-anak maupun pengurus panti asuhan begitu tegang; mereka terpukau dan takjub mendengarkan Kisah Natal. Beberapa anak bahkan duduk di tepi depan kursi seakan agar bisa lebih menangkap setiap kata. Selesai bercerita, setiap anak kami beri tiga potong kertas karton untuk membuat palungan. Mereka juga mendapat sehelai kertas persegi, sobekan dari kertas napkin kuning yang kami bawa. Anak-anak amat senang menerimanya karena di kota itu belum ada kertas berwarna.

Sesuai petunjuk, anak-anak mulai menggunting kertasnya dengan hati-hati lalu kemudian menyusun guntingan-guntingan kertas kuning sebagai jerami dipalungan. Potongan-potongan kecil kain flannel, yang digunting dari gaun malam seorang ibu Amerika yang telah meninggalkan Rusia, dipakai sebagai selimut bayi. Bayi kecil mirip boneka pun digunting dari lembaran felt yang kami bawa dari Amerika.

Semua anak sibuk menyusun palungannya masing-masing. Saya berjalan di antara mereka untuk melihat kalau-kalau ada yang membutuhkan bantuan. Semuanya tampak lancar dan baik-baik saja, hingga saya tiba di meja si kecil Misha. Misha adalah seorang anak laki-laki berusia sekitar enam tahun. Ia telah selesai mengerjakan proyeknya.

Ketika saya mengamati palungan bocah kecil ini, saya merasa terkejut bercampur heran. Ada dua bayi dalam palungan Misha. Cepat-cepat saya memanggil seorang penerjemah untuk menanyakan hal ini kepada Misha. Dengan melipat kedua tangannya di meja, dan sambil memandangi karyanya itu, Misha mulai mengulang Kisah Natal dengan amat serius.

Bagi anak sekecil dia, yang baru sekali saja mendengarkan Kisah Natal, ia menceritakan semua rangkaian kejadian dengan amat cermat dan teliti, hingga ia tiba pada bagian di mana Maria membaringkan Bayinya dalam palungan. Mulailah Misha bergaya. Ia membuat sendiri penutup akhir Kisah Natalnya. Katanya:

'Dan ketika Maria membaringkan Bayinya dipalungan, Bayi Yesus melihat aku. Ia bertanya apakah aku punya tempat tinggal. Aku katakan kepada-Nya bahwa aku tidak punya mama dan juga tidak punya papa, jadi aku tidak punya tempat tinggal. Kemudian Bayi Yesus mengatakan bahwa aku boleh tinggal bersama Dia. Tetapi aku katakan bahwa aku tidak bisa. Bukankah aku tidak punya apa-apa yang bisa kuberikan sebagai hadiah kepada-Nya seperti yang dihadiahkan orang-orang dalam kisah itu?

Tetapi aku begitu ingin tinggal bersama-Nya, jadi aku berpikir-pikir, "Apa ya, yang aku punya yang bisa dijadikan hadiah untuk-Nya." Aku pikir, barangkali kalau aku membantu membuat-Nya merasa hangat, itu bisa jadi hadiah yang bagus.

Jadi aku bertanya kepada Yesus, "Kalau aku menghangatkan-Mu, apakah itu bisa dianggap sebagai hadiah?" Dan Yesus menjawab, "Kalau kamu menjaga dan menghangatkan Aku, itu akan menjadi hadiah terindah yang pernah diberikan siapapun pada-Ku."

Demikianlah, aku menyusup masuk dalam palungan itu. Yesus memandangku dan berkata bahwa aku boleh kok tinggal bersama-Nya untuk selamanya.'
Misha dan Yesus
Saat si kecil Misha selesai bercerita, kedua matanya telah penuh air mata yang kemudian meleleh membasahi pipinya yang mungil. Wajahnya ia tutupi dengan kedua tangannya, kepalanya ia jatuhkan ke atas meja. Seluruh tubuh dan pundaknya berguncang hebat saat ia menangis dan menangis.

Yatim piatu yang kecil ini telah menemukan seseorang yang tak akan pernah melupakan serta meninggalkannya, yaitu seseorang yang akan tinggal bersamanya dan menemaninya - untuk selamanya."

Kamis, 01 November 2012

Kisah Natal Terhebat Urut.2

Pada awal Oktober 1843, Charles Dickens melangkah dari serambi rumahnya yang bertiang dan terbuat dari batu dan bata di dekat Regent’s Park di London. Udara sejuk di senja hari menimbulkan perasaan lega setelah beberapa hari udara terasa lembab yang tidak biasanya. Si pengarang memulai jalan malamnya melalui apa yang disebutnya “jalanan hitam” di kotanya.

Dickens adalah seorang lelaki tampan berambut ikal cokelat serta mata yang berbuinar seperti biasa, yang kali ini tampak sangat murung. Ayah empat orang anak, yang berusia tiga puluh satu tahun itu merasa sudah berada di puncak kariernya. The Pickwick Papers, Oliver Twist, dan Nicholas Nickleby semuanya populer; dan Martin Chuzzlewit, yang dianggapnya sebagai novelnya yang terbagus, diterbitkan secara bersambung setiap bulan. Namun, sekarang, pengarang terkenal itu menghadapi masalah keuangan yang serius.

Beberapa bulan sebelumnya, penerbitnya mengungkapkan bahwa penjualan novel barunya tidak sebagus yang diperkirakan, dan mungkin perlu dilakukan pengurangan yang besar dalam pembayaran uang panjar bulanan yang biasanya diterima Dickens. Kabar itu mengagetkan si pengarang. Sepertinya bakat mengarangnya dipertanyakan. Kenangan masa kecilnya yang sengsara muncul kembali. Dickens menafkahi keluarga besar, dan pengeluarannya nyaris melebihi beban yang sanggup dipikulnya. Ayah dan saudara-saudaranya memohon agar diberi pinjaman. Istrinya, Kate, sedang mengandung anaknya yang kelima.

Sepanjang musim panas, Dickens mencemaskan tagihannya yang menggunung, terutama cicilan rumahnya. Dia menghabiskan waktu di sebuah resor tepi pantai, tapi di situ pun dia susah tidur dan berjalan menjelajahi tebing selama berjam-jam. Dia sadar bahwa dia membutuhkan sebuah gagasan yang dapat memberinya sejumlah besar uang, dan dia membutuhkan gagasan itu secepatnya. Tetapi, dalam keadaan yang begitu menekan jiwa, ternyata sulit bagi Dickens untuk mengarang. Setelah kembali ke London, dia berharap bahwa melakukan kebiasaannya berjalan-jalan di malam hari akan bisa menyulut imajinasinya.

Cahaya kuning lampu gas yang berkelap-kelip menerangi jalanan yang disusurinya melalui permukiman yang lebih baik di kota London. Lalu, secara berangsur-angsur, di saat dia semakin mendekati Sungai Thames, hanya cahaya redup dari jendela rumah-rumah petak sajalah yang menerangi jalanan, yang sekarang dipenuhi sampah dan dibatasi oleh selokan di kedua sisinya. Para wanita anggun dan kaum lelaki berpakaian rapi di daerah permukiman Dickens digantikan oleh kupu-kupu malam yang mesum, pencopet, preman, dan pengemis.

Pemandangan yang muram itu mengingatkannya pada sebuah mimpi buruk yang sering mengganggu tidurnya: Seorang anak lelaki berusia dua belas tahun duduk di sebuah meja kerja yang di atasnya terdapat setumpukan tinggi wadah semir sepatu hitam. Selama dua belas jam sehari, enam hari sepekan, anak itu menempelkan label pada tumpukan wadah yang seakan tak ada habisnya itu untuk mengais rezeki enam shilling yang membuatnya dapat bertahan hidup.

Melalui lantai gudang yang sudah lapuk itu, si anak dalam mimpi melihat ke dalam tempat penyimpanan makanan, dan di situ tampak sekawanan tikus berseliweran. Kemudian, dia menengadah, melihat ke jendela yang penuh kotoran, dan dari jendela itu menetes air yang terbentuk oleh dinginnya cuaca London di musim dingin. Cahaya matahari mulai meredup, seiring dengan meredupnya harapan si anak. Ayahnya ditahan di penjara oleh penagih utang, sementara dia hanya menerima satu jam pelajaran sekolah pada saat istirahat makan malam di gudang itu. Dia merasa tak berdaya, ditelantarkan. Mungkin tak akan pernah ada perasaan gembira, riang, atau harapan lagi…

Ini bukanlah adegan yang diinginkan si pengarang. Adegan ini mirip dengan pengalamannya di masa kecilnya dulu. Untunglah, ayah Dickens mewarisi sejumlah uang, yang membuatnya dapat membayar semua utangnya dan keluar dari penjara–dan anak lelakinya yang masih kecil itu tidak mengalami nasib yang sengsara. Sekarang, ketakutan tidak bisa membayar utangnya sendiri terus menghantui Dickens. Dengan lesu, dia memulai perjalanan pulan dari acara jalan-jalannya yang panjang itu, sama sekali belum punya gagasan untuk kisah “ceria dan riang” yang ingin diceritakannya. Tidak berbeda dengan saat dia memulai acara jalan-jalannya.

Namun, saat semakin dekat dengan rumah, dia merasakan ada sekelebatan ilham. Bagaimana kalau menulis kisah Natal! Dia akan menulis sebuah cerita untuk orang-orang yang berpapasan dengannya di jalanan hitam kota London. Orang-orang yang hidup dan berjuang dengan dihantui perasaan takut dan kerinduan yang pernah dirasakannya dulu, orang-orang yang haus akan secercah kebahagiaan dan harapan.

Tapi, Natal sudah akan tiba kurang dari tiga bulan lagi! Mana mungkin dia sanggup menyelesaikan tugas sebesar itu dalam waktu sesingkat itu! Naskah karangannya harus pendek, jelas bukan sebuah novel lengkap. Naskah itu harus sudah rampung menjelang akhir November agar masih sempat dicetak dan didistribusikan tepat menjelang penjualan pernak-pernik Natal. Agar cepat, dia mendapatkan gagasan untuk mengadaptasi cerita hantu Natal dari sebuah bab The Pickwick Papers.

Dia akan mengisi ceritanya dengan berbagai adegan dan beberapa tokoh yang digemari pembacanya. Akan ada tokoh seorang anak kecil yang sakit-sakitan, yang ayahnya jujur namun tidak cakap, dan sebagai pusat cerita, akan ada seorang lelaki tua yang jahat dan egois, yang hidungnya bengkok dan pipinya keriput. Di saat hari-hari sejuk di bulan Oktober semakin mendekati bulan November yang semakin dingin, naskah itu terus berkembang, halaman demi halaman, dan ceritanya mulai membentuk. Alur cerita pokoknya cukup sederhana sehingga mudah dipahami anak-anak, namun membangkitkan gagasan yang bisa menggugah kenangan indah dan perasaan nyaman pada hati orang dewasa.

Setelah beristirahat sendirian di apartemennya yang dingin dan kosong pada malam Natal, Ebenezer Scrooge, seorang pengusaha London yang kikir, didatangi roh mitra usahanya yang sudah meninggal, Jacob Marley. Karena semasa dia masih hidup dikuasai oleh sifat serakah dan perasaannya yang tidak peka pada temannya, roh Marley terus gentayangan di dunia dengan dirantai karena sikapnya yang selalu tidak peduli pada sesama. Dia memperingatkan Scrooge agar mau berubah kalau tidak mau mengalami nasib yang sama dengannya. Hantu Natal Masa Lalu, Hantu Natal Masa Sekarang, dan Hantu Natal Masa Mendatang bermunculan dan memperlihatkan pada Scrooge berbagai pemandangan memilukan dari kehidupannya dan apa yang akan terjadi jika dia tidak memperbaiki cara hidupnya. Dengan perasaan yang sarat dengan penyesalan, Scrooge meninggalkan sifatnya yang egois dan berubah menjadi orang yang baik hati, dermawan, dan penuh cinta kasih yang berhasil memetik pelajaran dari semangat Natal yang sejati.

Bersambung ke “Kisah Natal Terhebat Urutan Kedua yang Pernah Dikisahkan, Bagian Kedua”

Dikutip dari buku “Everyday Greatness 63 Kisah + 500 Kata-kata Bijak Terbaik untuk Menemukan Makna Hidup” Ditulis oleh Thomas J. Burns
Halaman 250-253